Home

Login Form



YM

humas_saims

Administrator

IKLAN ANDA

Anda adalah Pengunjung ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday288
mod_vvisit_counterYesterday255
mod_vvisit_counterThis week1703
mod_vvisit_counterLast week3051
mod_vvisit_counterThis month6821
mod_vvisit_counterLast month14162
mod_vvisit_counterAll169468

We have: 1 guests, 1 bots online
Your IP: 174.129.237.157
 , 
Today: Apr 19, 2012

Who's Online

We have 2 guests online

Link Eksternal blog



SAIMS HOME
Cerita Kelas
Written by [email protected]   
Saturday, 10 March 2012 05:10

http://hamdiyasmart-experiences.blogspot.com

Last Updated on Monday, 26 March 2012 01:35
 
PENERIMAAN SISWA BARU
Written by Administrator   
Monday, 09 January 2012 00:00

INFORMASI PENDAFTARAN MURID BARU

SEKOLAH ALAM INSAN MULIA SURABAYA

Tahun Pelajaran 2012 - 2013

 

Persyaratan Umum:

1. Mengisi Formulir Pendaftaran

2. Menyerahkan 1 lembar Foto copy KSK

3. Menyerahkan 1 lembar Foto copy Akte Kelahiran

4. Foto berwarna ukuran 3X4 (5 lembar)

5. Melampirkan foto copy STTB/ijasah dari sekolah sebelumnya (khusus untuk masuk SMP) atau Surat keterangan dari sekolah asal, sambil menunggu ijasah diterima.

6. Melampirkan surat pindah (khusus pindahan)

 

Pembelian Formulir pendaftaran: Rp 250.000 (formulir hanya bisa dibeli di Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya)

Tabel Biaya Pendidikan di SAIMS

No. Uraian Jenjang
PG A PG B TK SD SMP
1. Uang Gedung 3.000.000 4.000.000 6.000.000 9.000.000 11.000.000
2. Uang Kegiatan/Tahun

450.000

700.000

1.275.000

2.100.000

2.100.000


3. SPP/bulan

275.000

285.000

525.000

675.000

900.000


4. Seragam - - - -

600.000

Keterangan:

Untuk Umum:

Discount 20% (Uang Gedung) bagi yang mendaftar selama bulan Januari.

 

Untuk warga SAIMS:

Bagi siswa PG-A SAIMS yang melanjutkan ke PG-B uang gedung tinggal menambah selisihnya saja.

Bagi siswa TK SAIMS yang melanjutkan ke Jenjang SD SAIMS,:

* uang gedung discount 40% bagi yang mendaftar di bulan Januari

* Discount 25% untuk pendaftaran di bulan Februari-Juni 2012

Discount 5% bagi yang memiliki saudara yang sekolah di SAIMS

Demikian juga dari SD SAIMS ke SMP SAIMS.

SPP sudah termasuk uang makan bagi siswa TK, SD, dan SMP

 

Segera Hubungi Kami:

Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya

Jl. Medokan Semampir Indah 99 - 101 Surabaya

Telp. 031 5920033

 
Pemaparan PROGRAM SEMESTER II Thn. 2011-2012
Written by Agus Anang Fatoni   
Saturday, 07 January 2012 04:41

Hari ini, tanggal 7 Januari 2012. SD SAIMS melaksanakan pemaparan Poogram Semester II (PROMES) tahun ajaran 2011-2012. Kegiatan pemaparan promes ini dilaksanakan setiap awal semester. Kegiatan pemaparan promes ini dilaksanakan guna mensosialisasikan program yang akan dilakukan oleh sekolah dalam satu semester kedepan.

Pemaparan meliputi:

1. Pemaparan tentang Program setiap kelas yang akan dilakukan dalam setiap minggunya.

2. Pemaparan tentang konsep belajar tiap harinya.

3. Pemaparan tentang kegiatan-kegiatan outdoor.

4. Pemaparan tentang proyek-proyek yang akan dilakukan anak-anak dalam satu semester.

5. Pemaparan tentang kebijakan-kebijakan kelas.

Disamping itu, pada kegiatan pemaparan PROMES ini, sekolah juga memberikan kesempatan kepada walimurid untuk terlibat aktif dalam proses kegiatan pembelajaran ataupun ikut merancang kegiatan yang akan dilaksanakan. Tentu saja harus mengedepankan target pembelajaran yang dicanangkan sekolah dalam penyusunannya.

Dengan demikian, harapannya ada sinergy antara walimurid dan sekolah dalam mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Semoga yang terbaik selalu bisa kita berikan untuk putra-putri kita semua.

 
Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu…
Written by Agus Anang   
Tuesday, 20 December 2011 06:10

MASA DEPAN TERGANTUNG DARI APA YANG DIPIKIRKAN SEKARANG.

Artikel ini ditulis oleh Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK
dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan
Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Berikut ini artikel selengkapnya:

Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang
tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada.
Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang
baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke
desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai
tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari
yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat
membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga
fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia
pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran
yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun
apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan
lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini,
maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan
pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping
ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak.
Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual
secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran
intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam
pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam
dan di luar sekolah. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar
karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker.
Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang
psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College
walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu
mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai
media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber, seorang wartawan
terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain
adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat
orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada
seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang
Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan
lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak
masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara
musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan
bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan
kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah
dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah
menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah
buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk
universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun la menjadi guru matematika di
Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius
karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga.

Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa.
Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu
yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Berbeda
dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang
dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa
yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu.

Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia
dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang
begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor
kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh
karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early
Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap
orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi
anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 %
bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi
belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam
memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat
mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-mana, di Indonesia.

“Early Ripe, early Rot…!”

Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di
Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan
bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera
mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka
mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka
memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah).
Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia
di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan
berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era
Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk
membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada
berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka
butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner,
seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The
Process of Education” pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak untuk
belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi
kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject
can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any
stage of development”.

Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak
pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara
memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk…
early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di
rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan
sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat
praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep
“kesiapan-readiness ” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat
banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limititations on
learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan
rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat
anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang dewasa “.
Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya
orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti
orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait
dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve
yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore
hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang
dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah
memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor
emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya
kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang
tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai
layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa.
Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua
hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan
(intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar,
terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku
anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak
sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak
laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m Nobody’S Child I’M NOBODY’S CHILD
I’M nobody’s child I’m nobodys child Just like a flower I’m growing wild No
mommies kisses and no daddy’s smile Nobody’s louch me I’m nobody’s child.

Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif
lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka
tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut.
Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood”. Lu belum
tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja
pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras,
drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana
pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian
dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan
emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan
waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam
kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang
berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka.
Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga
“baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu
muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping,
ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku
romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga
pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan
mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu.
Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala
bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan
diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak
mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di
lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva “be special ” daripada “be average or
normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi
“to excel to be the best”. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika
anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua
untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental
aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan
banyak lagi lainnya…maka lahirlah anak-anak super—”SUPERKIDS’ “. Cost merawat
anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child”. Orangtua saling
berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better”.
Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri
anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika
pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa
kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan
menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai
gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “mis-education”
terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan
berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents– (ORTU B0RJU)


Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil
mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat
baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat
anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan
ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir
tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang
baik seperti halnya membangun karier, maka “superkids” merupakan bukti dari
kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya
baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program
eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak
mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu
saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai
merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua “gourmet ”
atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK )
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas.
Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri
dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah
dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang
baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur
menjadikan anak-anak mereka “Superkids “, apabila si anak memperlihatkan
kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke
sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa
pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok
ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di
sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli
dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents –(ORTU SELEBRITIS )
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi
kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke
berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti
Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia .
Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes
kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih
kemenangan dan menjadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan
anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan
melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan
anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba
pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor
menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat,
mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua
masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.

Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang.
Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas. Banyak
kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold
medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam
usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau
kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia
glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar
narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang
setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan
banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua”
yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua
berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali
menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu
dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai
anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. Kemudian di
usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang
bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan
anaknya seorang “superkid” –seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film….

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu
dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayan professional di bidang sosial dan
kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan
di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang
tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok
ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” –earlier is better”.
Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya.
Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka
sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai
lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents— (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi
kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar
anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar
keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan
anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati
tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents,
kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep
“Superkids”. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar
dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka
melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya
“Karate, Yudo, pencak Silat” sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini
dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat
marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat
situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak.
Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki
pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik.
Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh
karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai
kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan
sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok
diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh
kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant
dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat
Mengajarkan bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan
Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang”
karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam
Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson.

Encounter Group Parents–( ORTU NGERUMPI )
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka
terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak
memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan
kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya.

Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina
hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan
ketidakpatutan dalam mendidik anak- anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi”
yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam
kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika
mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan
kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk
memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai
“Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya
kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang
bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka
cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus.
Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan
penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation”
dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang
nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang
tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang
disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan
menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar
segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak
dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga
menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias
dalam kehidupan belajar.

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut
kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses
dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan
kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri
kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak
yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau
lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan
indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal
tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang
tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila
seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh
kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan
indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan
satu hari untuk keselamatan kita” (destoyevsky’ s brothers karamoz)

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga
terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk
daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan
tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi,
ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam
bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator
kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas
sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar
terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku
pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi
pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam
menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa
potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani
pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan
tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.

Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi
sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR
yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang
dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku
pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan
apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka
sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan
yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum
persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata.
Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah? dengan tugas-tugas
dan PR yang menumpuk….

Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk
menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama.
Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa
sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya.
Di mana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu
apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak
mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan
pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan
bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya
begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran
(Freire,1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan
sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan
persaingan ranking wilayah….

Mengkompetensi Anak— merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN”
Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak
dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab.
“(Nature versus Nurture) bagaimana ?” Karena ada dua pengertian kompetensi.
kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang
dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak
sendiri.

Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson
(psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi
apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi.
Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui
pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a dozen
healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and
I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of
specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even
beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations,
and race of his ancestors ”

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah
mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah
kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Di mana
guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar
Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika.
Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger
kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not
the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were…
simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it
has paid off in New Yersey.”

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor
Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai
anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka
bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa
pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan
pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan
kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak
seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif
pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara
terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu
melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan
unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!.
Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang
berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus
merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang
yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan
-”curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita.
Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan!. “Empty Sacks will never
stand upright” — George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui
kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara
bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya.
Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan
semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru
sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Di mana mereka
mendidik anak menjadi “good and smart ” terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik
mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa
mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan
cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses
mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan
emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam
untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “genius is 1
percent inspiration and 99 percent perspiration “.

Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu
proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di
sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka
sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah
mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa
kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati
sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari
pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara
kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan
yang baik ….

PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang
hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan
reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara
serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua.
Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan
anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun
jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek
kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada
anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS”. Inilah fenomena yang
sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak
karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka
mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.
 
Pentas Seni
Written by Administrator   
Sunday, 20 November 2011 11:34

JavaScript is disabled!
To display this content, you need a JavaScript capable browser.

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3